Kegembiraan yang Perlahan Terkikis oleh Dominasi Big Six Kegembiraan yang Perlahan Terkikis oleh Dominasi Big Six

Pada demam isu 2015 / 2016, tim kuda hitam “The Foxes” berhasil merebut singgasana Premier League dari tim-tim papan atas lainnya dan itu terasa bagaikan keajaiban yang manis untuk dikenang. Namun, sayangnya untuk demam isu ini Leceister City akan sangat sulit untuk merebut kembali tahta mereka, bahkan beberapa orang pun seolah berkata sulit untuk mengulang keajaiban yang sama untuk kedua kalinya.

Faktanya ialah bahwa tidak semua klub di English Premier League menerima suntikan dana yang besar dari pihak manajemen. Seakan-akan terdapat sebuah jurang yang memisahkan antara tim dengan dana yang tak terbatas dengan tim yang tidak akan pernah besar lagi. Sejumlah nama besar serta harga diri yang menginginkan Tahta bergengsi pun menciptakan hanya beberapa klub liga utama Inggris yang sanggup bersaing dengan penuh percaya diri.

Sebagai buktinya, Manchester City maupun Manchester United serta Chelsea dengan mudahnya mengangkut instruktur yang mereka inginkan ( dengan total honor sebesar £ 21,5 juta ) ditambah dengan Tottenham Hotspur, Liverpool, dan juga Arsenal yang mulai membelanjakan uangnya untuk urusan pemain dengan harga transfer yang melambung tinggi. Leceister City pun tidak mau ketinggalan dengan membelanjakan dana yang terkumpul untuk membeli pemain yang mumpuni dan mahal serta diperlukan sanggup menyesuaikan diri dengan cepat. Sayangnya, Leceister hanya membeli pemain mahal semata-mata alasannya ialah melihat kesuksesan klub klub papan atas yang lebih mapan untuk memenangkan kembali singgasana teratas EPL.

Tentu apa yang dilakukan oleh tim-tim besar sedikit banyak membawa dampak kepada tim “kecil” lainnya. Bayangkan, hampir seluruh masyarakat pecinta sepak bola menyampaikan bahwa dalam Liga Primer Inggris, siapapun bisa mengalahkan siapapun. Namun Liga Primer Inggris telah mengalami hal yang sanggup diprediksi sebelumya, dengan angka-angka yang mencolok. Pada demam isu 2014-15, demam isu sebelum kemenangan tak terduga Leicester, tim Big Six mengumpulkan 2,13 poin per game dalam pertandingan melawan tim non-Big Six dan mempunyai persentase kemenangan 64,9% dari game tersebut.

"Siapapun bisa mengalahkan siapapun" terjadi pada demam isu 2015-16 dimana tim Big Six hanya bisa mengumpulkan rata rata 1,82 poin per game dan persentase kemenangan 52,4% melawan tim tim papan bawah pada dua demam isu terakhir, namun angka tersebut kembali naik pada demam isu lalu. Musim lalu, tim Big Six meraih 2,36 poin per game melawan tim non-Big Six, dengan persentase kemenangan 72,6%.

Secara praktis, Liga Inggris pun menjadi liga yang ‘sedikit’ membosankan alasannya ialah sanggup diprediksi dimana tim yang kurang antusias  melawan tim Big Six dan sering bermain seperti tujuan utamanya ialah untuk terus bersembunyi dan sanggup mencuri poin setidaknya seri. Contohnya ibarat pertahanan super defensive yang diperlihatkan tuan rumah Newcastle United saat menghadapi pemuncak klasemen sementara, Manchester City. Taktik ‘parkir bus’ diterapkan dengan teratur tentunya dengan menunggu dan berharap sanggup melancarkan serangan balik ke jantung pertahanan Manchester City. Jamie Carragher yang menjadi pengamat sepak bola sempat kebosanan pada program Sky Sports. "(Pertandingan) Ini menciptakan Liga Primer memalukan, ini sebuah lelucon," ungkapnya geram.

Begitu pula dengan Arsene Wenger yang mengeluhkan bagaimana klub-klub super defensif tim non-Big Six semakin menjadi-jadi. “ mereka memulai gagasan bahwa bila itu 0-0 ialah hasil yang bagus. Anda akan menyampaikan selama Anda tidak mencetak gol pertama Anda berada dalam posisi di mana Anda harus berjudi dan bertahan. Ini ialah sebuah dilema pada kurun sekarang. "

Antara demam isu 2003-04 dan 2008-09, hanya sekali Liverpool, Chelsea, Arsenal dan Manchester gagal finis di empat besar. Tapi setidaknya ketika itu ada klub ibarat Everton, Aston Villa dan Tottenham yang nyaris memecah grup dan secara teratur bisa membunuh para 'Big Four', dengan strategi yang tidak terlalu defensif dan bisa dibilang sangat menyerang. Tapi apakah ada yang bisa menyalahkan tim-tim kecil tersebut ketika peluang mengalahkan tim-tim besar hanya sanggup dicapai dengan cara sedemikan rupa ibarat pertahanan yang super ketat? Pada satu titik, kegembiraan menonton Liga Inggris bisa jadi akan terkikis oleh dominasi tim-tim Big Six. 

Antusiasme selalu menjadi kekuatan Premier League, namun tidak pernah melangkah lebih jauh dari status memproklamirkan dirinya sendiri sebagai liga terbaik di dunia.

sumber : Telegraph

Kegembiraan Yang Perlahan Terkikis Oleh Dominasi Big Six

Kegembiraan yang Perlahan Terkikis oleh Dominasi Big Six Kegembiraan yang Perlahan Terkikis oleh Dominasi Big Six

Pada demam isu 2015 / 2016, tim kuda hitam “The Foxes” berhasil merebut singgasana Premier League dari tim-tim papan atas lainnya dan itu terasa bagaikan keajaiban yang manis untuk dikenang. Namun, sayangnya untuk demam isu ini Leceister City akan sangat sulit untuk merebut kembali tahta mereka, bahkan beberapa orang pun seolah berkata sulit untuk mengulang keajaiban yang sama untuk kedua kalinya.

Faktanya ialah bahwa tidak semua klub di English Premier League menerima suntikan dana yang besar dari pihak manajemen. Seakan-akan terdapat sebuah jurang yang memisahkan antara tim dengan dana yang tak terbatas dengan tim yang tidak akan pernah besar lagi. Sejumlah nama besar serta harga diri yang menginginkan Tahta bergengsi pun menciptakan hanya beberapa klub liga utama Inggris yang sanggup bersaing dengan penuh percaya diri.

Sebagai buktinya, Manchester City maupun Manchester United serta Chelsea dengan mudahnya mengangkut instruktur yang mereka inginkan ( dengan total honor sebesar £ 21,5 juta ) ditambah dengan Tottenham Hotspur, Liverpool, dan juga Arsenal yang mulai membelanjakan uangnya untuk urusan pemain dengan harga transfer yang melambung tinggi. Leceister City pun tidak mau ketinggalan dengan membelanjakan dana yang terkumpul untuk membeli pemain yang mumpuni dan mahal serta diperlukan sanggup menyesuaikan diri dengan cepat. Sayangnya, Leceister hanya membeli pemain mahal semata-mata alasannya ialah melihat kesuksesan klub klub papan atas yang lebih mapan untuk memenangkan kembali singgasana teratas EPL.

Tentu apa yang dilakukan oleh tim-tim besar sedikit banyak membawa dampak kepada tim “kecil” lainnya. Bayangkan, hampir seluruh masyarakat pecinta sepak bola menyampaikan bahwa dalam Liga Primer Inggris, siapapun bisa mengalahkan siapapun. Namun Liga Primer Inggris telah mengalami hal yang sanggup diprediksi sebelumya, dengan angka-angka yang mencolok. Pada demam isu 2014-15, demam isu sebelum kemenangan tak terduga Leicester, tim Big Six mengumpulkan 2,13 poin per game dalam pertandingan melawan tim non-Big Six dan mempunyai persentase kemenangan 64,9% dari game tersebut.

"Siapapun bisa mengalahkan siapapun" terjadi pada demam isu 2015-16 dimana tim Big Six hanya bisa mengumpulkan rata rata 1,82 poin per game dan persentase kemenangan 52,4% melawan tim tim papan bawah pada dua demam isu terakhir, namun angka tersebut kembali naik pada demam isu lalu. Musim lalu, tim Big Six meraih 2,36 poin per game melawan tim non-Big Six, dengan persentase kemenangan 72,6%.

Secara praktis, Liga Inggris pun menjadi liga yang ‘sedikit’ membosankan alasannya ialah sanggup diprediksi dimana tim yang kurang antusias  melawan tim Big Six dan sering bermain seperti tujuan utamanya ialah untuk terus bersembunyi dan sanggup mencuri poin setidaknya seri. Contohnya ibarat pertahanan super defensive yang diperlihatkan tuan rumah Newcastle United saat menghadapi pemuncak klasemen sementara, Manchester City. Taktik ‘parkir bus’ diterapkan dengan teratur tentunya dengan menunggu dan berharap sanggup melancarkan serangan balik ke jantung pertahanan Manchester City. Jamie Carragher yang menjadi pengamat sepak bola sempat kebosanan pada program Sky Sports. "(Pertandingan) Ini menciptakan Liga Primer memalukan, ini sebuah lelucon," ungkapnya geram.

Begitu pula dengan Arsene Wenger yang mengeluhkan bagaimana klub-klub super defensif tim non-Big Six semakin menjadi-jadi. “ mereka memulai gagasan bahwa bila itu 0-0 ialah hasil yang bagus. Anda akan menyampaikan selama Anda tidak mencetak gol pertama Anda berada dalam posisi di mana Anda harus berjudi dan bertahan. Ini ialah sebuah dilema pada kurun sekarang. "

Antara demam isu 2003-04 dan 2008-09, hanya sekali Liverpool, Chelsea, Arsenal dan Manchester gagal finis di empat besar. Tapi setidaknya ketika itu ada klub ibarat Everton, Aston Villa dan Tottenham yang nyaris memecah grup dan secara teratur bisa membunuh para 'Big Four', dengan strategi yang tidak terlalu defensif dan bisa dibilang sangat menyerang. Tapi apakah ada yang bisa menyalahkan tim-tim kecil tersebut ketika peluang mengalahkan tim-tim besar hanya sanggup dicapai dengan cara sedemikan rupa ibarat pertahanan yang super ketat? Pada satu titik, kegembiraan menonton Liga Inggris bisa jadi akan terkikis oleh dominasi tim-tim Big Six. 

Antusiasme selalu menjadi kekuatan Premier League, namun tidak pernah melangkah lebih jauh dari status memproklamirkan dirinya sendiri sebagai liga terbaik di dunia.

sumber : Telegraph