Samara Arena menjadi saksi terlalu tangguhnya timnas sepakbola Brazil atas Meksiko Dua Tim Kuda Hitam, Meksiko dan Jepang, Gagal Melaju Lebih Jauh


     Samara Arena menjadi saksi terlalu tangguhnya timnas sepakbola Brazil atas Meksiko. Lesatan dua gol Brazil pada babak kedua tidak bisa dicegah kiper Meksiko, Ochoa. Sempat menguasai jalannya pertandingan pada 20 menit awal pertandingan, timnas Meksiko kehilangan momentumnya untuk mencetak gol hingga simpulan babak pertama. Babak kedua menjadi titik balik penampilan Brazil dengan Willian dan Neymar yang terus menusuk barisan pertahanan Meskiko, menghasilkan gol Neymar hasil umpan matang Willian pada menit 51.

     Meksiko gagal mengembalikan ritme permainan mereka yang sudah dikacaukan oleh para pemain Brazil sehabis gol pertama. Masuk menggantikan Coutinho yang tidak mendapat cukup bola hingga menit 86, Roberto Firmino butuh dua menit saja untuk mengonversi bola liar hasil blok sepakan Neymar menjadi gol kedua Brazil.

     Hasil ini tentu mengecewakan bagi timnas Meksiko, yang merupakan pembuka pintu kegagalan timnas Jerman melaju di fase grup. Ochoa turut angkat bicara pada wawancara televisi pasca pertandingan tersebut, “Kami tidak mempunyai presisi di saat-saat kami seharusnya bisa mencetak gol. Saya sangat tidak senang sebab kegagalan kami melaju lebih jauh.”

     Juan Carlos Osorio, instruktur timnas sepakbola Meksiko, mengucapkan terima kasih dan penyesalannya pada konferensi pers pasca pertandingan, “Saya ingin berterima kasih kepada seluruh penggemar kami. Dukungan dan cinta untuk tim nasional ini luar biasa. Saya ingin meminta maaf sebab tidak mencapai sasaran kami. "

     Pasca pertandingan, instruktur timnas Brazil, Tite, turut memperlihatkan pernyataan. “Saya menganggap karakteristik terkuat dari tim kami yaitu keseimbangan,” tambah Tite. “Ada yang berkata kami bermain lebih ibarat klub daripada tim nasional dan saya menganggap itu sebagai pujian, dan saya memberi tahu tim wacana hal itu.


     “Saya berharap kami selalu bisa mengulangi standar pertandingan sebelumnya dan jikalau memungkinkan, bermain lebih baik. Dan itu terjadi. Tidak hanya berlaku untuk starting XI, tetapi juga para pemain di kursi cadangan,” tandasnya.

     Tim kuda hitam lainnya yang harus menghadapi Belgia di babak 16 besar, Jepang, pun harus gigit jari di Rostov Arena. Bermain imbang tanpa gol di babak pertama dengan Jepang merapatkan barisan pertahanan mereka, menciptakan para pemain timnas Belgia kesulitan membuka ruang permainan di sepertiga lapangan depan.

     Di babak kedua, Jepang unggul cepat 0-2 lewat gol Genki Haraguchi di menit 48 sehabis gagalnya Jan Vertonghen memutus serangan Shibasaki dan Haraguchi. Di menit 52, Takahi Inui meniru keunggulan Jepang memanfaatkan umpan matang Shinji Kagawa. Dua gol Jepang menciptakan instruktur Roberto Martinez bereaksi dengan memasukkan Marouane Fellaini dan Nacer Chadli menggantikan Dries Mertens dan Yannick Carrasco pada menit 65.

     Keunggulan Jepang memacut semangat Belgia untuk mencetak gol. Berawal dari tendangan sudut, Jan Vertongen melaksanakan tandukan bola liar ke gawang Kawashima dan menciptakan skor menjadi 1-2. Memanfaatkan keunggulan postur, Belgia banyak mengincar permainan bola-bola atas. Umpan lambung Eden Hazard pada menit 74 dikonversi Fellaini yang unggul secara postur dengan tandukan yang membobol gawang Jepang, mengubah skor menjadi 2-2.

     Seolah mendapat momentum, Belgia memacu serangan demi serangan ke tempat pertahanan Jepang yang tidak lagi menutup ibarat pada babak pertama. Puncaknya, di masa injury time, Thibaut Courtois yang berhasil menangkap bola serangan Jepang, melemparkan dengan akurat ke Kevin De Bruyne yang berlari kencang ke lapangan Jepang. Lukaku menarik Hasebe dengan melaksanakan gerak tipu seolah akan menendang bola, sehingga bola De Bruyne yang hingga di Meunier pribadi diterima Chadli tanpa diambil Lukaku. Chadli, tanpa ampun, menyudahi usaha Jepang di Piala Dunia 2018 dengan mencetak gol kemenangan Belgia. 

     Pada wawancara televise pasca pertandingan, instruktur Belgia, Roberto Martinez berkomentar, “"Ya, itulah yang terjadi di Piala Dunia. Anda harus mengucapkan selamat kepada Jepang, mereka memainkan permainan yang sempurna. Mereka begitu solid, mereka menciptakan kami frustrasi, sangat baik menyerang balik. Dan itu yaitu ujian bagi tim kami. Para pemain kami memperlihatkan reaksi untuk benar-benar kembali ke permainan. Para pemain hanya ingin memenangkan pertandingan. Tidak ada hal-hal negatif, percayalah. Hari ini yaitu wacana lolos dari babak ini, dan kami melakukannya. Hari ini yaitu hari yang membanggakan untuk seluruh pemain. Teruslah percaya. Para pemain ini bisa melakukannya. Di Piala Dunia terkadang Anda ingin menjadi sempurna. Sepak bola yaitu wacana kemenangan dan para pemain Belgia memperlihatkan mental kemenangan yang luar biasa hari ini. "

     Pelatih Jepang, Akira Nishino menanggapi kekalahan belum dewasa asuhnya, "Kami bermain bagus, tapi kami berpikir kami harus menang. Kami ingin memenangkannya. Tim kami cukup kuat, dan melawan Belgia saya percaya kami setidaknya bisa menyamai mereka. Kami memulai dengan sangat baik tetapi pada alhasil tepat di simpulan pertandingan, harus kebobolan gol ibarat itu, sangat tidak diharapkan. Ketika kami unggul 2-0, saya tidak mengganti pemain. Saya benar-benar ingin mereka mencetak gol lainnya, dan kami memang mempunyai peluang. Kami sudah hingga batas tertentu mengontrol bola dan mengendalikan permainan, tetapi pada dikala itu Belgia meningkatkan permainan mereka, tepat ketika mereka benar-benar harus melakukannya. Pada alhasil kami tidak bisa benar-benar menandingi mereka.”

     Sayonara, Nippon!

(*dikutip dari banyak sekali sumber)

Dua Tim Kuda Hitam, Meksiko Dan Jepang, Gagal Melaju Lebih Jauh

 Samara Arena menjadi saksi terlalu tangguhnya timnas sepakbola Brazil atas Meksiko Dua Tim Kuda Hitam, Meksiko dan Jepang, Gagal Melaju Lebih Jauh


     Samara Arena menjadi saksi terlalu tangguhnya timnas sepakbola Brazil atas Meksiko. Lesatan dua gol Brazil pada babak kedua tidak bisa dicegah kiper Meksiko, Ochoa. Sempat menguasai jalannya pertandingan pada 20 menit awal pertandingan, timnas Meksiko kehilangan momentumnya untuk mencetak gol hingga simpulan babak pertama. Babak kedua menjadi titik balik penampilan Brazil dengan Willian dan Neymar yang terus menusuk barisan pertahanan Meskiko, menghasilkan gol Neymar hasil umpan matang Willian pada menit 51.

     Meksiko gagal mengembalikan ritme permainan mereka yang sudah dikacaukan oleh para pemain Brazil sehabis gol pertama. Masuk menggantikan Coutinho yang tidak mendapat cukup bola hingga menit 86, Roberto Firmino butuh dua menit saja untuk mengonversi bola liar hasil blok sepakan Neymar menjadi gol kedua Brazil.

     Hasil ini tentu mengecewakan bagi timnas Meksiko, yang merupakan pembuka pintu kegagalan timnas Jerman melaju di fase grup. Ochoa turut angkat bicara pada wawancara televisi pasca pertandingan tersebut, “Kami tidak mempunyai presisi di saat-saat kami seharusnya bisa mencetak gol. Saya sangat tidak senang sebab kegagalan kami melaju lebih jauh.”

     Juan Carlos Osorio, instruktur timnas sepakbola Meksiko, mengucapkan terima kasih dan penyesalannya pada konferensi pers pasca pertandingan, “Saya ingin berterima kasih kepada seluruh penggemar kami. Dukungan dan cinta untuk tim nasional ini luar biasa. Saya ingin meminta maaf sebab tidak mencapai sasaran kami. "

     Pasca pertandingan, instruktur timnas Brazil, Tite, turut memperlihatkan pernyataan. “Saya menganggap karakteristik terkuat dari tim kami yaitu keseimbangan,” tambah Tite. “Ada yang berkata kami bermain lebih ibarat klub daripada tim nasional dan saya menganggap itu sebagai pujian, dan saya memberi tahu tim wacana hal itu.


     “Saya berharap kami selalu bisa mengulangi standar pertandingan sebelumnya dan jikalau memungkinkan, bermain lebih baik. Dan itu terjadi. Tidak hanya berlaku untuk starting XI, tetapi juga para pemain di kursi cadangan,” tandasnya.

     Tim kuda hitam lainnya yang harus menghadapi Belgia di babak 16 besar, Jepang, pun harus gigit jari di Rostov Arena. Bermain imbang tanpa gol di babak pertama dengan Jepang merapatkan barisan pertahanan mereka, menciptakan para pemain timnas Belgia kesulitan membuka ruang permainan di sepertiga lapangan depan.

     Di babak kedua, Jepang unggul cepat 0-2 lewat gol Genki Haraguchi di menit 48 sehabis gagalnya Jan Vertonghen memutus serangan Shibasaki dan Haraguchi. Di menit 52, Takahi Inui meniru keunggulan Jepang memanfaatkan umpan matang Shinji Kagawa. Dua gol Jepang menciptakan instruktur Roberto Martinez bereaksi dengan memasukkan Marouane Fellaini dan Nacer Chadli menggantikan Dries Mertens dan Yannick Carrasco pada menit 65.

     Keunggulan Jepang memacut semangat Belgia untuk mencetak gol. Berawal dari tendangan sudut, Jan Vertongen melaksanakan tandukan bola liar ke gawang Kawashima dan menciptakan skor menjadi 1-2. Memanfaatkan keunggulan postur, Belgia banyak mengincar permainan bola-bola atas. Umpan lambung Eden Hazard pada menit 74 dikonversi Fellaini yang unggul secara postur dengan tandukan yang membobol gawang Jepang, mengubah skor menjadi 2-2.

     Seolah mendapat momentum, Belgia memacu serangan demi serangan ke tempat pertahanan Jepang yang tidak lagi menutup ibarat pada babak pertama. Puncaknya, di masa injury time, Thibaut Courtois yang berhasil menangkap bola serangan Jepang, melemparkan dengan akurat ke Kevin De Bruyne yang berlari kencang ke lapangan Jepang. Lukaku menarik Hasebe dengan melaksanakan gerak tipu seolah akan menendang bola, sehingga bola De Bruyne yang hingga di Meunier pribadi diterima Chadli tanpa diambil Lukaku. Chadli, tanpa ampun, menyudahi usaha Jepang di Piala Dunia 2018 dengan mencetak gol kemenangan Belgia. 

     Pada wawancara televise pasca pertandingan, instruktur Belgia, Roberto Martinez berkomentar, “"Ya, itulah yang terjadi di Piala Dunia. Anda harus mengucapkan selamat kepada Jepang, mereka memainkan permainan yang sempurna. Mereka begitu solid, mereka menciptakan kami frustrasi, sangat baik menyerang balik. Dan itu yaitu ujian bagi tim kami. Para pemain kami memperlihatkan reaksi untuk benar-benar kembali ke permainan. Para pemain hanya ingin memenangkan pertandingan. Tidak ada hal-hal negatif, percayalah. Hari ini yaitu wacana lolos dari babak ini, dan kami melakukannya. Hari ini yaitu hari yang membanggakan untuk seluruh pemain. Teruslah percaya. Para pemain ini bisa melakukannya. Di Piala Dunia terkadang Anda ingin menjadi sempurna. Sepak bola yaitu wacana kemenangan dan para pemain Belgia memperlihatkan mental kemenangan yang luar biasa hari ini. "

     Pelatih Jepang, Akira Nishino menanggapi kekalahan belum dewasa asuhnya, "Kami bermain bagus, tapi kami berpikir kami harus menang. Kami ingin memenangkannya. Tim kami cukup kuat, dan melawan Belgia saya percaya kami setidaknya bisa menyamai mereka. Kami memulai dengan sangat baik tetapi pada alhasil tepat di simpulan pertandingan, harus kebobolan gol ibarat itu, sangat tidak diharapkan. Ketika kami unggul 2-0, saya tidak mengganti pemain. Saya benar-benar ingin mereka mencetak gol lainnya, dan kami memang mempunyai peluang. Kami sudah hingga batas tertentu mengontrol bola dan mengendalikan permainan, tetapi pada dikala itu Belgia meningkatkan permainan mereka, tepat ketika mereka benar-benar harus melakukannya. Pada alhasil kami tidak bisa benar-benar menandingi mereka.”

     Sayonara, Nippon!

(*dikutip dari banyak sekali sumber)