dan yang kedua diterima sesudah ada intervensi dari wasit asal  Selamat! Perancis Juara Piala Dunia 2018!

Moskow - Gol pertama Perancis didapat dari kepala pemain Kroasia, dan yang kedua diterima sesudah ada intervensi dari wasit asal Argentina.

Tapi, dua gol berikutnya, dua tembakan rendah nan keras, secara dahsyat mengembalikan Piala Dunia ke tangan Perancis, gol yang memahkotai bintang-bintang generasi terbaru, yang seakan menegaskan apa yang semua orang sudah tahu bahkan sebelum kemenangan 4-2 atas Kroasia berakhir : Perancis yaitu tim terbaik di lapangan animo panas ini di Rusia, adonan jago dari nama besar, ketabahan dan nasib baik. Sekarang mereka bisa menyebut diri mereka sebagai juara dunia lagi. Selamat, Les Blues!

Mahkota Piala Dunia 2018 yaitu yang kedua bagi Perancis, sesudah terakhir kali memenangkannya di sangkar sendiri pada tahun 1998, dan itu mengakhiri perjalanan yang mengagumkan Kroasia selama lima ahad terakhir. Kroasia bertahan dalam tiga pertandingan dengan perpanjangan waktu - dan dua berkelahi penalti - di babak sistem gugur untuk mencapai final pertama mereka, dan mereka sejatinya bahkan mempunyai permainan yang lebih baik pada malam final kemarin. Tapi sanksi yang jelek dan lawan yang bisa bermain lebih sabar sukses menciptakan semua perbedaan.

"Kami tidak menyesal alasannya kami tim yang lebih baik untuk sebagian besar pertandingan," kata gelandang Kroasia Luka Modric, yang dianugerahi Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen. “Sayangnya, beberapa gol berbau keberuntungan berpihak ke arah mereka.

 "Perancis boleh merayakan gelar juaranya, tetapi kami, Kroasia, tetap bisa mengangkat kepala kami tinggi-tinggi."

Perancis menang dengan melaksanakan apa yang telah mereka lakukan selama enam pertandingan sebelumnya: bermain bertahan dikala itu harus, dan melaksanakan counter dikala itu bisa. Dan dikala peluit selesai dibunyikan, para pemainnya berlari dari kursi dengan gembira, berkumpul dengan pelukan dan melemparkan instruktur mereka, Didier Deschamps, ke udara. Deschamps, seorang gelandang di tim Perancis 1998, telah menjadi sosok ayah bagi tim mudanya, dengan kedua tangannya yang senantiasa membimbing, menjaga segala sesuatunya sejalan dengan rencana menuju selesai yang manis.

Ketika malam berakhir, dikala Prancis menjadi juara lagi, Deschamps menjadi hanya orang ketiga sepanjang sejarah yang memenangkan Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih. Para pemain menghormatinya dengan kegaduhan mereka, menerobos masuk ke konferensi pers pasca pertandingan dan menghujaninya dengan Champagne sebelum ia bisa menjawab satu pun pertanyaan.

 dan yang kedua diterima sesudah ada intervensi dari wasit asal  Selamat! Perancis Juara Piala Dunia 2018!

Tim Perancis 2018 mungkin tidak akan diingat orang sebagai juara yang paling elegan, atau yang paling menarik. Sebaliknya, orang mungkin hanya akan mengingat tim ini sebagai tim yang apa adanya: tim penuh bakat luar biasa sekaligus tim yang menerapkan efisiensi nan kejam, kelompok di mana setiap pemain tahu pekerjaannya dan melakukannya dengan sempurna. Sebuah tim dengan bakat kelas atas yang ingin menyublimkan permainan individu mereka ke misi kolektif; tim yang cukup percaya diri untuk menyerahkan ball possession bahkan kepada tim yang lebih kecil dan lalu menunggu kesempatan untuk menyerang balik.

"Kami tidak memainkan pertandingan yang mencengangkan tetapi kami menunjukkan kualitas mental," kata Deschamps. "Dan kami berhasil mencetak empat gol."


Ketika pertandingan berakhir, dikala langit terbuka dan hujan turun dan konfeti berterbangan dan trofi kesannya menjadi milik mereka, para pemain Perancis melepaskannya. Mereka meluncur di rumput lembap dan menari di sekitar lapangan dan mengambil bendera demi melaksanakan victory laps. Para pemain Kroasia hanya jatuh merebah ke tanah, tidak sanggup memberi lagi. Beberapa mulai menangis. Ini bukan hari mereka.

Hari Minggu malam yaitu hari untuk Deschamps. Untuk Pogba. Untuk Mbappé. Ini yaitu hari bagi Perancis untuk merayakan generasi gres para pahlawannya, sambil berharap mereka tidak akan menunggu 20 tahun lagi untuk sanggup melakukannya lagi. Sekali lagi, Selamat Perancis, Vive le France!



sumber : New York Times

Selamat! Perancis Juara Piala Dunia 2018!

 dan yang kedua diterima sesudah ada intervensi dari wasit asal  Selamat! Perancis Juara Piala Dunia 2018!

Moskow - Gol pertama Perancis didapat dari kepala pemain Kroasia, dan yang kedua diterima sesudah ada intervensi dari wasit asal Argentina.

Tapi, dua gol berikutnya, dua tembakan rendah nan keras, secara dahsyat mengembalikan Piala Dunia ke tangan Perancis, gol yang memahkotai bintang-bintang generasi terbaru, yang seakan menegaskan apa yang semua orang sudah tahu bahkan sebelum kemenangan 4-2 atas Kroasia berakhir : Perancis yaitu tim terbaik di lapangan animo panas ini di Rusia, adonan jago dari nama besar, ketabahan dan nasib baik. Sekarang mereka bisa menyebut diri mereka sebagai juara dunia lagi. Selamat, Les Blues!

Mahkota Piala Dunia 2018 yaitu yang kedua bagi Perancis, sesudah terakhir kali memenangkannya di sangkar sendiri pada tahun 1998, dan itu mengakhiri perjalanan yang mengagumkan Kroasia selama lima ahad terakhir. Kroasia bertahan dalam tiga pertandingan dengan perpanjangan waktu - dan dua berkelahi penalti - di babak sistem gugur untuk mencapai final pertama mereka, dan mereka sejatinya bahkan mempunyai permainan yang lebih baik pada malam final kemarin. Tapi sanksi yang jelek dan lawan yang bisa bermain lebih sabar sukses menciptakan semua perbedaan.

"Kami tidak menyesal alasannya kami tim yang lebih baik untuk sebagian besar pertandingan," kata gelandang Kroasia Luka Modric, yang dianugerahi Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen. “Sayangnya, beberapa gol berbau keberuntungan berpihak ke arah mereka.

 "Perancis boleh merayakan gelar juaranya, tetapi kami, Kroasia, tetap bisa mengangkat kepala kami tinggi-tinggi."

Perancis menang dengan melaksanakan apa yang telah mereka lakukan selama enam pertandingan sebelumnya: bermain bertahan dikala itu harus, dan melaksanakan counter dikala itu bisa. Dan dikala peluit selesai dibunyikan, para pemainnya berlari dari kursi dengan gembira, berkumpul dengan pelukan dan melemparkan instruktur mereka, Didier Deschamps, ke udara. Deschamps, seorang gelandang di tim Perancis 1998, telah menjadi sosok ayah bagi tim mudanya, dengan kedua tangannya yang senantiasa membimbing, menjaga segala sesuatunya sejalan dengan rencana menuju selesai yang manis.

Ketika malam berakhir, dikala Prancis menjadi juara lagi, Deschamps menjadi hanya orang ketiga sepanjang sejarah yang memenangkan Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih. Para pemain menghormatinya dengan kegaduhan mereka, menerobos masuk ke konferensi pers pasca pertandingan dan menghujaninya dengan Champagne sebelum ia bisa menjawab satu pun pertanyaan.

 dan yang kedua diterima sesudah ada intervensi dari wasit asal  Selamat! Perancis Juara Piala Dunia 2018!

Tim Perancis 2018 mungkin tidak akan diingat orang sebagai juara yang paling elegan, atau yang paling menarik. Sebaliknya, orang mungkin hanya akan mengingat tim ini sebagai tim yang apa adanya: tim penuh bakat luar biasa sekaligus tim yang menerapkan efisiensi nan kejam, kelompok di mana setiap pemain tahu pekerjaannya dan melakukannya dengan sempurna. Sebuah tim dengan bakat kelas atas yang ingin menyublimkan permainan individu mereka ke misi kolektif; tim yang cukup percaya diri untuk menyerahkan ball possession bahkan kepada tim yang lebih kecil dan lalu menunggu kesempatan untuk menyerang balik.

"Kami tidak memainkan pertandingan yang mencengangkan tetapi kami menunjukkan kualitas mental," kata Deschamps. "Dan kami berhasil mencetak empat gol."


Ketika pertandingan berakhir, dikala langit terbuka dan hujan turun dan konfeti berterbangan dan trofi kesannya menjadi milik mereka, para pemain Perancis melepaskannya. Mereka meluncur di rumput lembap dan menari di sekitar lapangan dan mengambil bendera demi melaksanakan victory laps. Para pemain Kroasia hanya jatuh merebah ke tanah, tidak sanggup memberi lagi. Beberapa mulai menangis. Ini bukan hari mereka.

Hari Minggu malam yaitu hari untuk Deschamps. Untuk Pogba. Untuk Mbappé. Ini yaitu hari bagi Perancis untuk merayakan generasi gres para pahlawannya, sambil berharap mereka tidak akan menunggu 20 tahun lagi untuk sanggup melakukannya lagi. Sekali lagi, Selamat Perancis, Vive le France!



sumber : New York Times